kisah




Saat Rasulullah dicaci maki dan dilempari batu, Rasul tidak membalas. Bahkan saat Jibril mengatakan, “Ya Rasulullah jika Engkau meminta niscaya akan Allah jungkirbalikkan bumi ini agar mereka tahu bahwa mereka salah dan tak pantas memperlakukanmu seperti itu.”Rasul menjawab, “Tidak, Jibril. Biarkan saja mereka melakukan itu karena mereka tidak tahu bahwa mereka keliru.”
Saat Rasulullah diludahi, beliau tidak membalas dengan meludahi. Malah beliau tengok dan santuni saat si peludah sedang sakit. Orang itu terharu dan hatinya tergetar oleh akhlaq Rasulullah, dan ia pun mengucapkan syahadat di hadapan beliau.
Rasulullah SAW dan Nenek Yahudi

Suatu hari Abu Bakar, Radi-Allahu anhu, as-Siddiq berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Radi-Allahu anha. Beliau bertanya kepada anaknya, “anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan”, Aisyah Radi-Allahu anha menjawab pertanyaan ayahandanya, “Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. “Apakah itu wahai anakku?”,tanya Abu Bakar Radi-Allahu anhu. Maka Aisyah Radi-Allahu anha menjawab, “Setiap pagi Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang berada di sana”, kata Aisyah Radi-Allahu anha. 
dia sudah tua renta beragama Yahudi. Nenek itu buta dan tak punya gigi lagi. Nabi SAW selalu memberikan makan dan menyuapinya dan si nenek ini tak mengetahui bahwa yang setiap hari memberinya makan dan menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW, orang yang paling dibencinya.
Si nenek ini senantiasa mengajak orang-orang agar mereka menjauhi manusia yang bernama Nabi Muhammad saw. Nenek ini menganggap, Nabi Muhammad saw adalah orang yang paling jahat di dunia. Selain itu, nenek ini juga menganggap beliau telah menyebabkan terjadinya peperangan antar suku dan mengganti keyakinan (agama) nenek moyangnya dengan Islam. Karena itu, ia ingin orang-orang menjauhi Nabi Muhammad.
Walaupun dibenci dan dicaci-maki oleh si nenek, Rasul SAW tak pernah marah. Dengan telaten, setiap hari Rasul selalu SAW menghaluskan makanan sebelum diberikan kepada si nenek. Dengan begitu, nenek itu bisa langsung memakan makanan yang sudah lunak tanpa perlu dikunyah. Selesai makan, si nenek selalu berpesan kepadanya agar berhati-hati bila bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Hal ini dilakukan hingga wafatnya Sayyidinal wujud Rosulullah saw
Keesokan harinya, Abu Bakar Radi-Allahu anhu membawakan makanan dan menemui pengemis Yahudi buta tersebut. Pengemis Yahudi buta ini selalu berteriak-teriak dan berkata kepada orang yang mendekatinya. Abu Bakar Radi-Allahu anhu pun heran, kenapa Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam memberi makan kepada orang yang menghinanya setiap hari.
Ketika Sayyidina Abu Bakar menyuapi si nenek baru satu suapan makanan itu diberikan, si nenek lantas mengeluarkan makanan itu dan marah-marah kepada si penyuapnya, yakni sayyidina Abu Bakar. Si nenek berkata, “Siapa kamu? Makanan ini sangat kasar. Engkau pasti orang lain dan bukan orang yang biasa memberiku makan?”
Abu Bakar Radi-Allahu anhu meyakinkan bahawa beliau adalah orang yang setiap hari memberikan ia makanan. Akan tetapi pengemis Yahudi buta itu tidak percaya kerana orang yang selalu memberinya makanan jauh lebih lembut dan lebih sabar dalam menyuapinya. 
“Bukan..kamu bukan orang yang setiap hari memberiku makan..! Apabila dia kesini, aku tidak pernah kesusahan memegang makananku, aku juga tidak susah untuk memakannya bahkan dia telah meluembutkan makananku sebelum masuk ke mulutku..” 
Kemudian Sayyidina Abu Bakar Radi-Allahu anhu dengan linangan air mata kerana terharu mendengar akhlak dari Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam.
Beliau Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam selalu memberi makan dan menyuapi mulut dari orang yang setiap hari kata dari mulut itu hanyalah ucapan kotor dan hina yang merendahkan dan melecehkan diri-Nya. Ucapan kotor dan umpatan dibalas dengan suapan makanan dengan penuh kasih sayang. Allahu Akhbar! 
Kemudian Abu Bakar Radi-Allahu anhu menyebutkan jatidirinya “Aku memang bukan orang yang setiap hari memberimu makan. Akan tetapi, Beliau tidak akan datang lagi ke sini untuk memberimu makan..” 
Mendengar hal itu, pengemis itu menangis dan berkata. “Apa salahku sehingga dia sudah tidak mahu menemuiku lagi? Sampaikan permintaan maafku sehingga dia mahu mendatangiku lagi..” 
“Beliau sudah meninggalkan dunia ini dan akulah yang akan menggantikan Beliau. Aku adalah Abu Bakar Radi-Allahu anhu sahabat Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam adalah orang yang setiap hari menyuapimu..” 
Seketika itu juga linangan air mata pengemis Yahudi buta makin deras membasahi pipinya lantas dia menyesal kerana orang yang selama ini diumpat dan dilecehkan harga dirinya adalah orang yang setiap hari dengan sabar menyuapinya. Saat itu juga, pengemis itu mengucapkan dua kalimat Syahadah dan masuk Islam di hadapan Abu Bakar Radi-Allahu anhu.
Rosululullah memberi pelajaran yang luarbiasa kepada kita agar senantiasa hidup saling menyayangi, sekalipun kepada orang yang membenci kita dan berbeda agama. Kita lihat teladan yang diberikan Rasulullah, beliau menyayangi orang yang membenci, mencaci, dan memaki beliau dengan senantiasa memberikan yang terbaik kepada orang yang membenci beliau, dan pada akhirnya orang itu bertaubat dan memeluk agama Islam. Wallahu a'lam.

Ketika orang Yahudi menghina
Saat sekelompok orang Yahudi menghina dan mengumpat Rasulullah, Siti Aisyah membalas hinaan dan caci maki itu dengan cara yang sama. lalu Rasulullah menegur Siti Aisyah, “wahai Aisyah, apa yang kau lakukan. Janganlah kau balas cacian dengan cara yang sama. Sesungguhnya manusia akan kembali dalam bentuk cacian dan umpatannya”. Kembali, Rasulullah menunjukkan kemuliaan akhlaknya.
RASULULLAH  TAK PERNAH MENGAJARKAN KITA UNTUK MENGHALALKAN SEGALA EKSPRESI… TAK PERNAH RASUL MENGAJARKAN KITA MENGHINA, MENGUMPAT, MENCACI, MEMAKI…
Rasulullah mengajarkan kita untuk mengubah dunia dengan akhlak. Hal yang sesungguhnya mudah diucapkan, gampang dituliskan, tak susah untuk dibacakan, tapi benar-benar sulit untuk dilakukan. Sangat sulit menahan diri untuk tidak membalas cacian mereka yang mencaci namun, siapa yang mengikuti jejak dan sunnah Rasul sesungguhnya akan menjadi orang yang sangat beruntung.


Allahumma shalli `ala sayyidina Muhammad
wa `ala aali sayyidina Muhammad
Wallahu a`lam



 

Ketika Sayyidina Abu Bakar dicaci

 

Sayyidina Abu Bakar pernah dicaci, dan dikutuk

walaupun Rasulullah S.A.W duduk disebelahnya

 

Pada suatu hari Rasulullah SAW bertamu ke rumah sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq, Ketika sedang ngobrol dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab Badui (orang gurun) menemui Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq. dan langsung mencela Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq. Makian kata-kata kotor keluar dari mulut orang orab gurun itu. Namun, Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq sama sekali tidak menghiraukannya, terus beliau melanjutkan perbincangan dengan Rosul.

 

Rasulullah Melihat hal ini, Rasulullah tersenyum. Kemudian, orang Arab Badui tersbut kembali memaki Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq, kali ini, makian dan hinaannya lebih kasar. Namun dengan keimanan yang kokoh serta kesabarannya, Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq masih tetap membiarkan orang tersebut dan tidak sedikit pun membalas caciannya. Rasulullah pun kembali tersenyum.

 

 Smakin marahlah orang Arab Badui tersebut. Untuk ketiga kalinya, dia mencerca Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq dengan celaan yang lebih menyakitkan dari sebelumnya. Kali ini Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq tidak dapat menahan amarahnya, kemudian  Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq membalas makian orang Arab Badui dengan makian pula. Maka terjadilah perang mulut Seketika itu, Rasulullah beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq tanpa dengan mengucapkan salam.

 

Melihat hal ini, selaku tuan rumah, Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq tersadar dan menjadi bingung. Dikejarnya Rasulullah yang sudah sampai halaman rumah. Kemudian Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq berkata, "Wahai Rasulullah, janganlah biarkan aku dalam kebingungan yang sangat. Jika aku berbuat kesalahan, jelaskan kesalahanku!

 

 "Rasulullah menjawab" Sewaktu ada seorang Arab Badui datang dengan membawa kemarahan serta fitnahan lalu mencelamu, kulihat tenang, diam dan engkau tidak membalas, aku bangga melihat engkau orang yang kuat mengahadapi suatu tantangan, menghadapi fitnah, kuat menghadapi cacian, dan aku tersenyum karena para malaikat disekeliling mu mendoakan dan memohonkan ampun kepadamu, kepada Allah SWT.

 

Begitu pun yang kedua kali, ketika orang tersebut mencelamu. dan engkau tetap membiarkannya, maka para malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh sebab itu, aku tersenyum.

 

Namun, ketika ketiga kalinya dia mencelamu dan engkau menanggapi dan engkau membalasnya, maka seluruh malaikat pergi meninggalkanmu. dan ketika itu hadirlah iblis di sisimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin berdekatan dengan kamu. Dan aku tidak ingin berdekatan dengan iblis dan aku tidak memberikan salam kepadanya.

 

"Setelah itu menangislah Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ketika diberitahu tentang rahasia kesabaran bahwa itu adalah kemuliaan yang terselubung. yang mana kita tidak menyadarinya.

 

 

oleh karena itu bersabarlah atas setiap musibah, celaan dan lain sebagainya.

Allah berfirman: "Maka bersabarlah engkau dengan kesabaran yang baik." (QS. Al-Ma’arij : 5)

 Semoga allah menjadikan kita kepribadian yang selalu tabah dan sabar atas setiap hal yang terjadi dalam kehidupan.......amiiiin

 

 

 


Ketika Sayyidina Ali Krw Marah


Dalam sebuah peperangan, sayyidina Ali k.w. diludahi orang kafir yang pedangnya terlepas akibat hantaman pedang sayyidina Ali. Muka sayyidina Ali penuh dengan ludah. Karena emosi, beliau segera mengayunkan pedangnya. Belum sampai sayyidina Ali menebas orang kafir itu, beliau menahan laju Zulfikar, pedang kesayangannya. “Kenapa kau tak jadi menebasku, wahai Ali?”. sayyidina Ali menjawab, “Aku berperang karena Allah, bukan karena kemarahanku. Aku tak bisa menebasmu hanya gara-gara kemarahanku kepadamu yang meludahiku..”
Subhanallah, Sayyidina Ali menahan amarahnya atas hinaan orang itu pada dirinya.

 

 

Ketika Sayyidina Hasan ibn Ali Krw Dicaci Maki



Sayyidina Hasan pernah dicaci maki oleh orang yang tidak suka padanya. Ia dicaci maki habis - habisan di depan putranya. Tapi beliau hanya diam saja tidak membalas.
Sang putra bertanya: "Kenapa ayah tidak membalas caciannya ? Bukankah ayah tidak seperti itu ?"
Sayyidina Hasan menjawab: "Ayahku, Ali bin Abi Thalib.. Ibuku, Fatimah Az-Zahra, dan Kakekku, Muhammad SAW, mereka semua tidak pernah mengajariku bagaimana caranya mencaci - maki. Jadi aku bingung dan tidak tahu bagaimana caranya membalas".

Subhanallah..

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّد

Ketika Al habib Abdul Qadir ibn Ahmad Assegaf Dicaci Maki

Inilah Akhlak Salafush Shalih...

 

Al habib Abu Bakar Adni bercerita, "Ketika Al habib Abdul Qadir ibn Ahmad Assegaf mengajar di Ashar bulan Ramadhan pada tahun 1407 H/ 1408 H, kita duduk dan Al habib Abdul Qadir mengajar. Selesai mengajar, tiba-tiba saja muncul seseorang dari golongan mereka lalu berdiri dan mencaci-maki Al habib Abdul Qadir didepan kita semua. Waktu orang ini berdiri, dia mencaci-maki Al habib Abdul-Qadir, mencaci-maki dari pada orang tua kita, mencaci-maki dari pada kitab yang kita baca pada saat itu dan orang ini juga mencaci-maki qasidah yang kita baca. Kemudian orang tersebut mengatakan, "Orang ini (maksudnya Al habib Abdul Qadir) tidak mau shalat berjamaah di masjid kami, orang ini jelas-jelas munafik."
10
Dan ketika orang tersebut berbicara seperti itu, ada kurang lebih 200 orang dari Ahlul Bait Nabi Shallallâhu alaihi wa sallam yang duduk yang mendengar ucapan itu dan masih banyak orang-orang lainnya yang kita tidak bisa berbuat apa-apa tatkala orang berbuat seperti itu. Setelah orang itu berdiri, berbicara yang begitu ngerinya dan ia pun duduk. Lalu Alhabib Abdul Qadir hanya mengatakan :
"Barakallahu fiik wa jazakallah kheir, wa rattabal-fâtihah wa khatama/ Terimakasih banyak mudah-mudahan Allahu ta'âlâ membalas kamu dengan balasan yang sebagus-bagusnya, kemudian Al habib Abdul Qadir ratibul-fatihah dan membubarkan majelisnya. 
Saya (Al habib Abu Bakar al Adni) lihat bahwa Al habib Abdul Qadir tidak marah sama sekali, tidak membalasnya sama sekali dan tidak berbuat apa-apa sama sekali. Bahkan saya lihat wajahnya pun tidak berubah, justeru yang saya lihat beliau hanya menundukkan pandangannya ke bawah.


Masya Allah Tabarakallah!!



Putus asa
Ibnu Hajar al-Asqalani

Seorang anak termenung dijendela asrama. Matanya menatap jutaan bintang dilangit. Angin malam tak lagi mampu membuat pikiranya tenang. Hatinya sedang bergejolak dihadapkan dengan masalah besar. Batinya pun berucap “Aku tetap Harus segera mengambil Keputusan.”sudah bertahun-tahun ia tidak naik kelas, semangatnya mulai redup ditiup keputusasaan. Ia merasa dirinya adalah anak paling bodoh didunia. ia adalah anak yang sudah tidak lagi memiliki harapan. Melanjutkan Belajar adalah sebuah kesia-siaan.

Malam itu akhirnya ia mengambil keputusan besar. Ia akan meninggalkan sekolah dan membuang mimpinya untuk menjadi seorang alim ulama dan saat itu kebisingan malam pun sudah sirna. Malam sudah sangat larut, dan temannya yang seasraman pun sudah pada terlelap dalam mimpinya. Rasa ragu sempat meniadakan niatnya untuk pergi, namun ia bergumam di dalam batinnya “aku sudah tidak lagi dapat bermimpi, semua telah sirna. Aku tdak berbakat menjadi seorang cendikia, sudah bertahun-tahun akun tidak naik kelas. Bodoh jika masih berharap menjadi Alim Ulama. ”Akhirnya ia pergimenye-linap keluar asrama dengan keraguan, pergi untuk selama-lamanya dari sekolah Cukup jauh sudah perjanalan yang ditempuhnya, Rasa letih dan lapar membuatnya memutuskan untuk istirahat sejenak. Dalam peristirahatanya ia melihat pemandangan yang membuatnya takjub.Tak jauh dari tempatnya,ia melihat tetesan air yang sangat kecil, rembesan dari atas.Sementara air itu menetes bongkahan batu besar yang sangat kokoh, yang tak hancur dalam sekali hantaman palu besi.Akan tetapi bongkahan batu itu justru berlubang oleh tetesan air yang sangat kecil.ia Pun terus saja memandangi batu tersebut.Pikiranya seakan tenggelam didalam palung samudra yang sangat dalam.Hatinya yang bergejolak kini didinginkan oleh dalamnya samudra,ia pun mulai jernih untuk berpikir.“Batu itu Besar dan Kokoh,”dia berbicara kepada dirinya sendiri. “Pasti takkan mudah menghancurkan batu tersebut'tapi siapa sangka dengan tetesan air yang sangat kecil bisa berlubang. Air yang terus mene- rus diteteskan dapat melubangin batu yang sangat kokoh,” Pada saat itulah semangat mulai lagi tumbuh didalam dirinya.“saya boleh jadi bodoh,namun jika terus menerus kerja keras seperti air kecil itu.saya pasti bisa melubangi batu kebodohan dalam diri saya hingga kelak akan musnah.”Ia bersyukur kepada Allah SWT yang telah menunjukkan ia jalan keluar dari keputusasaan. Wajahnya kini cerah dihiasi senyuman indah penuh dengan optimisme.Sontak saja ia bergegas kembali keasrama sebelum waktu subuh tiba.Semangat belajarnya kini telah kembali dan tumbuh lebih besar ketika Ia pertama kali masuk kesekolahnya dahulu.Ia kini bukan ia yang dulu,bkn juga anak kecil yang semangat ketika pertama kali masuk sekolah.Sejak saat itu,ia menjadi anak yang paling gigih dalam dalam menghafal dn memahami ilmu Qur’an dan Hadist.Ia tidak pernah lagi putus asa,pelajarn sesusah apapun akan ia pelajari dengan berulangan-ulang kali hingga mampu memahaminya.”Aku harus Segigih tetesan air yang sangat kecil,”ucap dirinya untuk menyemangati diri sendiri agar termotivasi dalam beljar. Setelah bertahun-tahun lamanya,anak yang lahir di mesir pada bulan sya'ban tahun 773 H kelak akan dikenal dunia sebagai Alim Ulama dengan karya-karya yang fenomenal.Umat Islam diseluruh dunia sangat mengenal Beliau sebagai pengarang/penulis kitab Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari,Bulughul Maram min Adillatil Ahkam.Hebatnya Sampai saat ini kitab-kitab beliau masih terus dipelajari,dan dibedah.Padahal dahulu beliau sempat berputus asa dan ingin menghentikan cita-citanya. Nama Ibnu Hajar al-Asqalani,,yang berarti“Anak Batu.”Karena memang beliau terbuka hatinya setelah melihat batu yang berlubang karena tetesan air yang terus menerus.Sedangkan Al–Asqalani adalah nisbat kepada‘Asqalan’,sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina,dekat Ghuzzah (Jalur Gaza). Beginilah sekilah cerita yang saya kutip dari kitab fawaaidul janiyyah Semoga menjadi motivasi bagi kita yang bahwa bersungguh sungguh pasti mendatangkan keberhasilan.

Keutamaan Orang Yang Menjaga
Sunnah Rasulullah SAW

Ada 2 orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bersepakat untuk saling membantu di dunia dalam mencapai ridha Allah, dan untuk menyebarkan ajaran Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam, dan menampakkan akhlak rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama mereka dalam kehidupan dunia.
13
Maka kedua orang shalih ini setuju untuk mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad dan menyebarkan ajaran beliau hingga mereka wafat, dan mereka berkesinambungan dalam hal itu, mereka saling membantu dalam menyebarkan dakwah nabi Muhammad, mereka mengajarkan sunnah-sunnah nabi Muhammad kepada manusia dengan kasih kelembutan dan kasih sayang dan akhlak yang mulia, dan mereka terus mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Yang mana hal itu adalah sunnah-sunnah yang sangat sederhana dan kita semua mengetahuinya, diantaranya sunnah ketika makan, ketika tidur, ketika keluar dan masuk rumah. Kita menganggapnya sesuatu yang kecil padahal hal itu sangat agung di sisi Allah.
Dan setelah beberapa tahun kedua orang ini mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka salah seorang diantara mereka meninggal. Maka orang ini selalu mendoakan temannya yang meninggal, dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya.
Dan suatu saat ia berjumpa dengan temannya di dalam mimpi, dan ia menanyakan keadaannya setelah meninggal, dan apa yang terjadi setelah ia wafat. --- Kita mengetahui bahwa mimpi-mimpi baik itu adalah benar dan datangnya dari Allah,dan sebagian mimpi yang lainnya adalah dari syaitan.
Lihatlah pada indahnya tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Maka berkatalah saudaranya yang meninggal itu: " Ketika aku wafat dan berpindah dari kehidupan dunia ini, sungguh aku tidak merasakan kematian sama sekali, orang-orang memandikanku, mengkafaniku, dan membawaku ke dalam kubur, tetapi aku mengira diriku dalam mimpi, sehingga datang 2 malaikat ke dalam kuburku, dan berkata kepadaku : "duduklah wahai Abdullah".
Dan ketika aku duduk di kuburku aku merasa bahwa diriku baru bangun dari tidur, dan dahulu ketika aku masih hidup di dunia aku selalu menjaga 2 sunnah nabi yaitu ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, yang pertama adalah sunnah siwak, ketika aku bangun tidur aku selalu mengambil siwak dan bersiwak dengannya, dan yang kedua adalah ketika aku bangun tidur aku selalu membaca doa:
الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور
" Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali, dan kepada-Nya lah kami akan kembali". (doa bangun tidur)
Adapun balasan dari sunnah yang pertama aku tidak merasakan sakitnya kematian bahkan aku mengira bahwa aku sedang dalam mimpi, sehingga malaikat berkata kepadaku: "duduklah wahai Abdullah" mereka ingin menanyakan aku di dalam kubur.
Dan ketika aku bangun dari kuburku aku mengira bahwa aku bangun dari tidur, dan aku mulai mencari siwak dan aku mengulang-ulang doa bangun tidur, dan ketika itu aku memanggil anakku dan aku berkata: "wahai fulan, dimana siwakku, siapa yang yang telah mengambil siwak?", maka malaikat yang berada di hadapanku berkata: "Wahai Abdullah, siwak apa yang engkau cari dan siapa yang orang yang engkau panggil itu?, apakah engkau mengira bahwa engkau sedang tidur di tempat tidurmu?, engkau sekarang adalah mayyit di dalam kuburmu, dan kami adalah malaikat yang akan bertanya kepadamu".
Maka aku menjadi risau dan aku sadar bahwa aku telah berada di alam kubur, dan aku pun mengulang-ulang doa bangun tidur, maka malaikat itu berkata: "engkau adalah hamba yang shalih, engkau telah dikuatkan dengan ucapan yang kuat, maka tiada lagi pertanyaan untukmu di kubur dan di hari kiamat, maka tidurlah seperti tidurnya pengantin sampai tiba hari kiamat".
Maka ia berkata kepada temannya di dalam mimpi, sungguh Allah subhanahu wata'ala telah menyelamatkanku dari pedihnya kematian, dan dari pertanyaan 2 malaikat di alam kubur dikarenakan aku mengamlakan dua sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat mudah dan sederhana itu.
Maka bagaimana jika kita mengamalkan 5 dari sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan bagaimana jika kita menjaga 10 sunnah dari sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Setiap sunnah Rasulullah yang engkau amalkan akan membawa manfaat untukmu, dan orang ini telah melewati 1 tahap yaitu selamat di alam kuburnya, ia akan selamat dari kubur kemudian mencapai ke surga, dan dari surga ia akan mencapai kepada puncak kenikmatan di surga yaitu memandang keindahan dzat Allah subhanahu wata'ala.
Demikianlah Allah subhanahu wata'ala memberi balasan kepada orang-orang yang beriman di dunia, karena mereka beriman kepada Allah subhanahu wata'ala walaupun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka menyembah-Nya padahal mereka tidak melihat-Nya, dan mereka melakukan shalat karena Allah subhanahu wata'ala sedangkan mereka tidak melihat-Nya.
Jika mereka telah sampai kepada ketetapan rahmat Allah, maka mereka akan melihat Allah subhanahu wata'ala, dan Allah akan menyingkirkan dari mereka tabir yang menghalangi mereka dengan Allah.

Wallahu'alam



Keindahan Akhlak Sang Putri Kecil

Al Habib Umar bin Hafidz

 

Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidz pernah berkata kepada salah satu putri beliau:
“Darul Mustofa dan Daruzzahro ini bukanlah kepunyaan kita, sekalipun ayah yang mendirikannya tetapi sejatinya adalah kepunyaan Kakek kita Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam beserta putri kecintaan beliau ibu kita Sayyidah Fatimah Azzahro Radhiyallohu ‘Anha, maka sekali-sekali kamu jangan berbuat seenaknya di dalamnya, harus tunduk dengan segala macam peraturannya, jangan memakan hak-hak tamu Azzahro sebelum mereka semua telah habis makan kecuali sisa-sisa puing makanan dari mereka. Ingat !! peran kita di sini hanya sebagai pembantu, khaddam, dan pelayan yang melayani rumah ini beserta tamu-tamunya”.
Pada suatu hari, saat jam istirahat, aku hendak pergi ke kamar kecil, tetapi aku melihat putri kecil putri bungsu Habib Umar bin Hafidz duduk seorang diri di salah satu tangga Daruzzahro sambil memegang perut, maka aku pun menghampirinya dan bertanya:
“Ada apa denganmu wahai putri mulia?“
Maka dengan polosnya ia menjawab bahwa ia dalam keadaan lapar dari tadi, sebab sebelum pergi ke sekolah tidak sempat bersarapan terlebih dahulu, khawatir terlambat ucapnya. Spontan aku membalas ucapannya dan berujar:
“Mengapa yang mulia tidak mengambil sepotong roti di ruang makan Darruzzahro saja?”.
Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Atau pulang sebentar ke rumah mengambil sarapan?”, tawarku kembali.
Ia pun tetap membalasnya dengan gelengan.
Aku semakin keheranan: “Bukankah engkau putri guru mulia kami (Habib Umar bin Hafidz)? Pemilik Daruzzahro ini wahai yang mulia?”.
Maka ia pun menceritakan pesan sang ayah untuk putra putri dan seluruh keluarga. Mendengarnya, aku tercengang dan terkejut, ku rasakan sudut mataku mulai berembun, hatiku bergetar mendengar penuturannya. Tidak hanya sampai di situ, putri kecil guru mulia mengejutkanku dengan perkara lain. Merasa kasihan dan tak tega, aku pun merogoh saku baju dan mengambil selembar uang di dalamnya:
“Jika begitu ku mohon ambilah ini sebagai hadiah dariku, dan belilah sedikit makanan untuk mengganjal perut yang mulia”, ucapku penuh harap sambil menyodorkan selembar uang itu ke hadapannya. Ia tersenyum ramah, mata beningnya menatapku lembut dan ia menolak halus pemberianku dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, namun aku terus merayu dan memohon agar dia bersedia menerimanya, tetapi putri kecil guru mulia tetap bersikeras untuk tidak menerimanya dan terus mengindahkan tangannya dari tanganku, melihat usahaku tiada henti, dengan polosnya ia berkata:
“Maafkan aku saudaraku, bukannya menolak pemberianmu, dan ingin melukai perasaanmu, akan tetapi ayah mengajarkan kami untuk tidak memberatkan orang lain dan tidak berharap belas kasih manusia selain belas kasih Allah Subhanahu wa Ta’ala, simpanlah uang itu, karena engkau lebih memerlukannya ketimbang aku, lagi pula kalau ayahanda mengetahui pasti beliau tidak akan menyetujuinya”.
Tes tes… ku rasakan air mataku mulai berjatuhan di pipiku, aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku lihat kerudungnya nampak kumal, pakaiannya pun terlihat lusuh, ia hanya menggunakan keresek putih untuk alat-alat sekolahnya, kakinya penuh debu tanpa mengenakan sandal, aku terdiam terpaku tak mampu berkata sekalimat pun sampai putri guru mulia berlalu dari hadapanku sambil berlari-lari kecil dengan wajah yang tetap riang. Aku menelan ludah susah payah, gemetar jiwaku menatap bayangnya yang perlahan menghilang dari pandanganku, hatiku bergetar hebat, pendidikan macam apa ini yang membuat anak sebelia dia memiliki hati sedemikian mulia. Sambil berderai air mata ku segerakan langkahku menuju kamar. Sesampainya di kamar ku membenamkan kepalaku di bantal dan pecah tangisku seketika, bagaimana tidak?
Jiwaku hancur lembur dihantam akhlak mulia sebegitu luhur, benar benar kami ini murid yang tak tau diri, jauh kami merantau dari negara kami hanya demi menimba ilmu serta mengambil keberkahan dari Guru Mulia beserta Sang Istri, malam-malam kami tidur dengan nyenyak, tidak pernah sedikitpun kekurangan air dan makanan, bahkan kami menganggap tempat ini seperti rumah kami sendiri, terkadang kami berbuat semaunya, makan dengan kenyang dan menggunakan kipas angin dan AC sepuasnya, tetapi guru mulia yang mendirikan tempat ini pun merasa tidak memilikinya dan tidak berlaku seenaknya.
Hatiku benar-benar serasa dicambuk rasa malu yang begitu dalam, teramat malu atas ketidaktahuan kami, atas sedikitnya perhatian dan kepedulian kami. Guru mulia beserta keluarga begitu memuliakan para pelajarnya melebihi penghormatan kami kepada beliau. Huhuhu… aku terus saja menangis.
Sampai akhirnya terdengar suara peringatan waktu istirahat segera berakhir. Aku pun menghentikan tangisanku dan menyeka air mata. Masih dengan mata yang sembab aku bangkit berdiri dan berniat mengambil air wudhu. Saat ku lewati ruang makan Daruzzahro, sungguh ku menyaksikan pemandangan yang kembali sangat membuat hatiku miris. Ku lihat tangan mungil putri mulia memunguti beberapa pecahan roti yang tersisa dari bekas sarapan sebagian pelajar tadi pagi. Melihatnya aku membuang pandangan karena tak sanggup menyaksikannya. Kejadian tersebut sangat membekas di hatiku sehingga aku merenungkannya selama berhari-hari. Semenjak itu aku jadi jarang ikut makan bersama dengan teman-teman lainnya, kecuali menunggu mereka telah usai semua, dan aku mulai bermujahadah melunturkan kesombongan yang ada di diriku. Terkadang aku sengaja memakan roti yang sudah kering dan keras yang sudah ku hancurkan sebelumnya, atau memakan bekas-bekas nasi yang akan dibuang, atau makan bersama kawan tetapi dengan suapan yang terbatas, ketika kenyang hanya 3 suap, jika memang dalam keadaan lapar hanya 9 suap, semua itu sengaja ku lakukan agar diriku yang sangat payah ini dapat merasakan kerasnya menuntut ilmu tanpa memanjakan diri sedikitpun, terlebih-lebih setiap mengingat kejadian di atas hatiku sangat malu terhadap Sang Guru. Kami hanya seorang murid dan hanya menumpang di tempat ini, harusnya kami yang menjadi pelayan bukannya memanjakan diri terus menerus.
Wallohu ‘Alam.
(Diceritakann oleh seorang Alumni Darul Musthofa, Tarim, Hadhromaut, Yaman, yang bersumber Mii AL Bein Yahya).



Ulama mukasyaf

Suatu saat ada ulama besar yang terkenal ahli mukasyafah (tahu isi hati orang lain), saat itu ada beberapa ulama bertamu kepada ulama besar itu...
Satu demi satu ulama yang bertamu itu di persilahkan masuk, akan tetapi ada satu ulama yang dibiarkan begitu saja tidak boleh masuk kedalam rumahnya, akhirnya setelah semua ulama pulang, tibalah ulama itu dipanggil, dan setelah duduk berhadapan ulama ahli mukasyafah itu, si ulama ahli mukasyafah itu tidak menoleh dan menghiraukan sama sekali...
Ulama yang bertamu itu hanya bisa diam seribu bahasa, tanpa berani berbicara, akhirnya ulama itu sedikit memberanikan diri untuk berbicara kepada ulama ahli mukasyafah itu.
"Wahai Syeihk, mengapa sekian lama engkau diam, tidak menghiraukanku? apakah aku ini orang jahat? Apakah perbuatanku jelek? atau amal-amalku busuk? ataukah engkau takabur merasa lebih mulia, lebih terhormat dan lebih baik daripada aku?" Tanya ulama yang bertamu itu..
Akhirnya ulama ahli mukasyafah itu itu berkata
"Bukan begitu wahai kyai, aku diam membiarkanmu bukan karena aku sombong merasa lebih baik, takabur merasa lebih mulia daripada kamu, akan tetapi aku tidak menghiraukan engkau karena aku kasihan kepadamu, aku diberitahu Allah dengan keadaanmu sesungguhnya, makanya aku ingin berbicara 4 mata denganmu!"
"Maksudnya Syeihk?" Tanya heran ulama yang bertamu itu
"Kita sama-sama tahu bahwa dunia ini adalah tempat menanam dan kelak hasilnya akan dipetik setelah kita meninggalkan dunia kelak"
Lanjut ulama ahli mukasyafah itu..
"Aku tahu dirimu itu adalah seorang ulama, punya ribuan santri, kamu sudah terkenal seantero negeri ini, orasi-orasimu itu bisa menimbulkan semangat berjuang bagi siapa saja yang mendengankan, dan aku juga tahu bahwa kamu adalah ahli ibadah, puasa sunnahmu tidak pernah lepas, sholat malammu selalu terjaga, kepada fakir miskin engkau juga sangat perhatian" jawab ulama ahli mukasyafah itu..
"lantas apa kesalahanku wahai Syeihk?" Tanya heran ulama itu
"tapi sayang tamanmu itu gersang, ladangmu itu tandus, akibatnya tanaman yang engkau tanam tidak akan panen di akherat kelak"
Terkagetlah ulama itu "Mengapa seperti itu Syeihk?"
"Iya, sebab yang engkau tanam di dunia itu adalah tanah gersang, tanah yang tandus, bukan tanah yang subur, sehingga tanaman yang kau engkau tanam itu sia-sia tidak tidak berbuah apapun"
"Lantas yang dimaksud tanah yang tandus itu apa wahai Syeihk?" Tanya ulama itu
"Kau tahu bahwa hatimu adalah ladang, ladang untuk menanam bibit kebaikan, tapi sayang ketika kamu menanam bibit kebaikan itu, pada saat kau menanam itu hatimu jahat, suka menggunjing orang lain, suka merendahkan orang lain, suka meremehkan orang lain, dan suka menfitnah orang lain, dan suka mengadu domba orang lain, maka pada saat itu bibit-bibit kebaikanmu tidak tumbuh, bibit-bibit surgamu itu mati karena saat itulah akan terhapus amal-amalmu"
Lanjut ulama ahli mukasyafah itu..
"Dan tanaman yang bersamaan yang engkau tanaman itu ada penyakit ujubnya"
"Dimana ujub itu wahai Syeihk?"
"Ketika kamu menjadi kyai bangga, kamu menjadi orang baik bangga, kamu dihormati banyak orang bangga, maka banggamu itulah yang menghapus semua amalmu yang kau tanam saat itu juga"..
Rasulullah Saw pernah bersabda "Banggamu itu akan menghapus amalmu 70 tahun!" (HR. Dailami)





Tukang Becak

Ada seorang tukang becak, yang sudah cukup sepuh (tua), beliau tinggal di daerah Dinoyo (Malang, Jatim).
Setiap hari Jum'at, ia menggratiskan tarif becaknya, dengan niat shodaqoh..
Suatu kali, pada hari Jum'at, ada seorang pria bapak-bapak yang jadi penumpangnya.
Pria itu naik becak jarak dekat saja, tanpa tawar-menawar, pria itu membayar tarif becak yang di tumpanginya dengan uang 20 ribu, tetapi langsung ditolak sama bapak tukang becak, beliau bilang :

"Kulo ikhlas Pak, pun usah dibayar, kula sagete shodaqoh nggeh ngeten niki.."
"(Saya ikhlas Pak, sudah jangan dibayar, saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini..)."

Si penumpang pun kaget, tapi karena terburu-buru, Pria itu langsung pergi begitu saja, setelah mengucapkan terima-kasih.
Pekan berikutnya, pada hari jumat pula, Pria itu bertemu lagi dengan tukang becak yang sama pada Jum'at lalu.
Setelah diantar ke tempat tujuan, Pria itu menyodorkan uang 200 ribu, atau 10x lipat dari shodaqoh tukang becak kepada pria ini Jum'at lalu, untuk tarif becaknya.

Tukang becak yang sudah sepuh ini pun menjawab dengan tenang :
23
"Insyaallah.. Kulo ikhlas pak..
Kulo sagete shodaqoh nggih namung ngeten niki,, ngateraken tiyang."
"(Insyaallah.. Saya ikhlas Pak..
Saya cuma bisa shadaqoh dengan cara seperti ini,, mengantarkan orang..)."

Karena merasa aneh, Pria yang menumpang itu menimpali :
"Lha kalau begini terus, Istri, dan Anak bapak makan apa.!? Kenapa nggak mau dibayar..?!"

Tukang becak itu pun menjawab :
"Alhamdulillah, Rayat kulo nggih sami ikhlas menawi saben Jum'at kula shodaqoh ngeten niki..".
"(Alhamdulillah, Istri saya pun sama-sama ikhlas jika tiap hari Jum'at saya bershodaqoh dengan cara ini..)"

"Oh,, jadi Bapak nggak mau di bayar pada hari Jum'at saja..!?" Tanya si penumpang memastikan.

"Nggeh, Pak"
"Rumah bapak dimana?" Tanya penumpang penasaran..

"Wonten Dinoyo Pak, wingkingipun bank..".
"(Tinggal di Dinoyo Pak, sebelah belakang bank..)"
Hari pun berlalu, dan di hari Jum'at berikutnya, Pria penumpang becak yang penasaran ini mencari rumah Tukang becak itu.
Setelah menyusuri gang sempit sebelah gedung bank di daerah dinoyo, akhirnya Pria itu ketemu juga dengan rumah sederhana milik Tukang becak yang di carinya.
Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang wanita yang sudah tua, masih menggunakan mukena.
Hatinya tergetar...
batinnya menangis..
betapa selama ini, ia yang sangat di cukupi kebutuhannya oleh Allah s.w.t, malah jarang bersimpuh kepada-Nya.
Jangankan sedekah, dan sholat dhuha, sholat wajib saja masih sering ia tinggalkan..
Ia pun mencium tangan wanita tua itu, lalu meminta idzin untuk meminjam KTP bapak, dan ibu sekalian.
 
"Bapak tasik siap-siap badhe sholat Jum'at, niki KTP-ne damel nopo nggeh..!!?"
"(Bapak masih melakukan persiapan untuk sholat Jum'at, ini KTP nya, kalau boleh tau buat apa ya..!?)

"Bu, bapak, dan juga ibu telah membuka mata hati saya, ini jalan hidayah yang telah Allah s.w.t anugerahkan kepada saya.
Insyaallah, Bapak, dan Ibu saya daftarkan untuk naik haji ONH Plus bersama saya, dan istri, mohon di terima ya, Bu.."


Masya Allah..
sungguh maha pemurah Allah s.w.t yang membalas kebaikan-kebaikan kecil, dengan kebaikan-kebaikan yang lebih besar.


Ketika Gunung Ikut Berdakwah (Renungan)
Beliau Almaghfurlah Al-habib Mundzir Bin Fuad Al Musawa…merenung...
Ketika Alam Mulai Ikut Berdakwah,
Ketika ku merenung dalam tafakkur, kutanyakan pada alam, wahai gunung, apa yang kalian inginkan terus mengganggu umat Sayyiduna Muhammad صلى الله عليه وسلم ? Kalian akan terkena sidang kelak, bukankah kalian ini makhluk اللّهُ Ta'ala, dan             اللّهُ Ta'ala mencintai Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ,
lalu kenapa kalian mengambil posisi turut memerangi umat                                       Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pula?

Mereka menjawab : " Kami adalah pendukung dakwah Sayyidina                                 Rosulillah صلى الله عليه وسلم .. ,ketika umat beliau ghaflah (lupa), ketika masjid-masjid sepi, ketika musholla mulai runtuh tak disentuh, ketika Al-Qur'an mulai tak terngiang.
Kami takut dijadikan saksi di hari kiamat kelak, kami menyaksikan para da'i lemah mengunjungi wilayah-wilayah kami, maka kami berdakwah, kami terjun sebagai da'i, dengan cara kami tentunya,
Bukankah dengan perbuatan kami justru musholla dan masjid makmur?
Bukankah dengan perbuatan kami muslimin menjadi banyak berdoa dan berdzikir?
Bukankah dengan perbuatan kami orang kaya yang kikir menjadi berinfak?
Bukankah dengan perbuatan kami dosa-dosa umat banyak terhapus?
Bukankah dengan perbuatan kami banyak umat pendosa ini mati syahid?
Salahkah usaha kami?
kenapa kami dilarang membantu padahal para da'i tak mampu berbuat seperti yang kami perbuat?
Lalu apakah para sholihin akan menghentikan usaha kami membantu sayyidina Rosulillahh صلى الله عليه وسلم agar umatnya kembali dan sadar dari ghaflah?
Jika kami dijadikan saksi kelak atas dosa umat ini tentu para da'i dan sholihin yang akan tertuduh..
maka kami membantu mereka..Kenapa kami disalahkan?
Jika kami berhenti mampukah para sholihin dan da'i menggatikan perbuatan kami dan mengunjungi wilayah kami?
Kami hanya membantu meringankan beban para sholihin dan para da'i. Wahai اللّهُ, gunung-gunung-Mu sudah turut berbakti pada dakwah ini, tapi setidaknya batasilah cara bakti mereka agar tak terlalu menyakiti umat ini… amiin
Terimakasih wahai gunung-gunung, kalian turut berperan serta menyadarkan umat ini dan meringankan beban para sholihin dan da'i. Semoga اللّهُ Ta'ala segera melimpahkan hujan taubat dan rohmat pada umat ini tanpa perlu reaksi para gunung-gunung ini, amiin…
Dasyatnya Sedekah
Dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut: Tatkala Allah Swt., menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam.

Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?"

Allah menjawab, "Ada, yaitu besi."    
Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi.

Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?"
Allah yang Maha Suci menjawab, "Ada, yaitu api."
Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api.

Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?"

Allah yang Maha Agung menjawab, "Ada, yaitu air"
Api membara sedahsyat apa pun, niscaya akan padam jika disiram oleh air.

"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.
Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab,  "Ada, yaitu angin."
Air di samudra luas akan serta-merta terangkat, bergulung- gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat.


Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang.  (Durrotun Nasihin)



Surat umar ibnu al-Khattab kepada sungai nil
Sewaktu negri mesir ditaklukan oleh tentara Islam, khalifah umar ra. Telah melantik Amru bin as sebagai gubernur diwilayah tersebut, namun terjadi peristiwa ganjil dimasa pemerintahannya. Air sungai nil akan berhenti mengalir dan penduduk mesir bermusyawarah hendak melakukan upacara jahiliyah yaitu dengan mengorbankan seorang gadis kedalam sungai nil. Sudah tentu amru bin as bersikeras menolak adat tersebut. Apalagi air sungai nil mulai kering, penduduknya merasa cemas. Sebagian dari mereka terpaksa berpindah ke kawasan lain. Keadaan ini memaksa amru as menulis surat kepada khalifah umar ra. Untuk meminta pandangannya, sayyidina umar pun mengirimkan jawabannya kepada amru. Surat itu bukan lah di tujukan kepadanya, melainkan kepada sungai nil. Sebelum surat itu di buang kedalam sungai nil, amru sempat membaca isi kandungannya yang berbunyi: “surat ini dikirimkan kepada sungai nil oleh umar, hamba allah dan amirul mukminin. Wahai sungai nil ! jika air yang mengalir di sungai ini atas kuasamu, maka ketahui lah bahwa kami tidak memerlukan kau, tetapi jika ia mengalir diatas kekuasaan allah SWT, maka kepadanya lah kami memohon agar kami mengalirkan air di sungai ini.” Setelah di campakkan surat itu kepadanya, diriwayatkan sungai itu pun dipenuhi air sedalam empat puluh kaki pada malam itu juga. Sejak peristiwa itu lenyap lah amalan-amalan jahiliyah di kalangan penduduk mesir.


Kecintaan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq
kepada Rasulullah SAW

Ketika Rasulullah SAW bersama Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah SAW tertidur berbantalkan paha Abu Bakar. Tiba-tiba Abu Bakar merasa kesakitan karena kakinya digigit/disengat kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak khawatir Rasulullah SAW terbangun.



Kecintaan Imam Malik kepada Rasulullah SAW

Imam malik ra tidak mau naik onta di dalam kota madinah karena hormat terhadap tanah tempat Rasulullah SAW di makamkan. Ketika membaca hadis Imam Malik R.A. tidak pernah duduk dalam posisi selain tasyahud bahkan Pada suatu waktu, Imam Malik sedang mengajarkan hadist dan ekspresi wajahnya berubah. Murid-muridnya bertanya “Ada apa?” Dia berkata “Periksa punggungku.” Dan ketika diperiksa, ternyata seekor kalajengking menyengatnya, dan dia tidak berpindah posisi karena rasa hormatnya terhadap ajaran Rasulullah S.A.W. beliau disengat kalajengking sampai 13 kali ketika membaca hadis Nabi tetapi beliau tidak berhenti membaca sampai hadis
tersebut selesai. Karena beliau malu memutus
bacaan hadis rasulullah untuk kepentingan diri pribadinya
, :  

Beginilah Tsauban Mencintai Rasulullah

aSeorang hamba sahaya bernama Tsauban sangat ingin berjumpa dengan Rasulullah. Sebab, ia sangat mencintai dan mengagumi akhlak dan kepribadian Nabi akhir zaman tersebut. Namun, tempat tinggalnya sangat jauh, sehingga ia sulit berjumpa dengan Rasul SAW.
Pada suatu hari, Tsauban dapat bertemu dengan Rasulullah. Kesempatan itu digunakannya untuk mendengarkan segala nasihat dan tausiah dari Rasul SAW. Mengetahui Tsauban, Rasulullah tampak heran, sebab warna kulitnya tidak seperti warna kulit orang yang sehat, tubuhnya kurus, dan wajahnya menandakan kesedihan yang teramat mendalam. Rasul pun bertanya, “Apa yang menyebabkan kamu seperti ini?”
“Wahai Rasulullah, yang menimpa diriku ini bukanlah penyakit, melainkan ini semua karena rasa rinduku padamu yang belum terobati, karena jarang bertemu denganmu. Dan, aku terus-menerus sangat gelisah sampai akhirnya aku dapat berjumpa denganmu hari ini,” ujarnya.
“Ketika ingat akhirat, aku khawatir tidak dapat melihatmu lagi di sana. Karena, saya sadar bahwa engkau pasti akan dimasukkan ke dalam surga yang khusus diperuntukkan bagi para nabi. Kalaupun toh saya masuk surga, saya pasti tidak akan melihatmu lagi, karena saya berada dalam surga yang berbeda dengan surgamu. Apalagi jika saya nantinya masuk neraka, maka pastilah saya tidak akan dapat melihatmu lagi selama-lamanya,” tukas Tsauban. Mendengar curahan hati si budak Tsauban tersebut, Rasulullah pun menjawab, “Insya Allah engkau (berkumpul) bersamaku di surga.”



Sayyid Alwi bin abbas al Maliki bercerita :
"Dahulu Ada Seorang wanita sedang berdiri di hadapan makam Nabi Saw sambil mngucapkan, " Wahai Rasul, aku berharap syafa'atmu ". Lalu seorang wahabi melihatnya dan berkata, "Wahai wanita, kenapa kamu memanggil orang yg tidak dapat mendengar dan memberi manfaat, tongkatku ini lebih baik dan manfaat dari Muhammad. Kalau kamu ingin bukti ikutlah denganku ".
Maka wanita itu keluar masjid bersamanya, dan menemukan unta yang sedang duduk. Wahabi itu berkata kepada unta tersebut, "Wahai unta, berdiri karena menghormati Muhammad, bangunlah degan kemuliaan Muhammad, aku bertawassul kepadamu dengan Muhammad supaya kamu berdiri". Tpi unta itu tidak berdiri. Lalu wahabi itu memukulnya dengan tongkat, maka unta itu berdiri. Dan berkata pada si wanita," Aku sudah katakan tadi padamu bahwa tongkat ini lebih baik dari Muhammad?".
Maka wanita itu berkata, "Dudukkanlah kembali unta itu jika kamu idzinkan ". Wahabi itu mendudukkan kembali unta itu dan ia yakin bahwa wanita itu akan memperdulikan dan menjadikan pelajaran untuk keluarganya nanti, menurut pemahaman kerdil wahabi tersebut.
Wanita itu berkata kepada unta, "Wahai unta, aku memintamu dengan Allah untuk berdiri, aku bertawassul kepadamu dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang Maha Luhur supaya kamu berdiri, karena memuliakan Allah hendaknya kamu berdiri ". Tapi unta itu tidak mau berdiri.
Ketika wanita itu memukul unta dengan tongkat, maka berdirilah unta tersebut. Si wanita berkata kepada wahabi, " Apakah kamu akan mengatakan bahwa tongkatmu ini lebih baik dari Allah dan Nama-nama serta sifat-sifat- Nya ?"
Maka wahabi itu terbungkam tidak mampu menjawab.
Lalu si wanita berkata, " Aku kasih jawaban untukmu, "sesungguhnya unta ini adalah binatang sepertimu yg tidak mengerti "....
Shollu ala habibina MUHAMMAD......!!!

Al Imam Hassan As Syadzili
Al Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abubakar Al Hamid mengisahkan

Al Imam Hassan As Syadzili pernah bermimpi bertemu melihat beberapa orang besar disisi Allah yang tinggi derajatnya, dalam mimpinya tersebut ada Rasulullah, Nabi Musa as dan Imam Al Ghazali..
Di dalam majlis itu, Nabi Musa AS telah bertanya kepada Rasulullah SAW :
“ Ya Rasulullah, Apakah maksud Hadis mu: Ulama-ulama di kalangan umatku setara dengan para Anbiya' dari Bani Israel?”. Maka Rasulullah pun memanggil Al Imam Ghazali dan memperkenalkannya kepada Nabi Musa AS Ini adalah salah satu ulama kami yang setara para nabi di masa kamu. Yang dimaksudkan Setara dari segi keilmuanya.
Lalu Nabi Musa AS telah bertanya kepada Imam Al-Ghazali, “Siapakah nama mu”. Maka Imam Ghazali pun menjawab, “Namaku ialah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Hamid Al Ghazali.
Nabi Musa A.S berkata “Aku bertanya nama mu sahaja, kenapa kau menyebut sehingga nama ayah dan datuk mu sekali”. Imam Al-Ghazali mengatakan pada Nabi SAW , untuk meminta izin dari Rasullullah SAW untuk menjawab persoalan dari Nabi Musa Kalimullah atau dirinya diam saja kepada Imam Al Ghazzali sebab nak hormat kepadanya..
Lalu Nabi kata, jawab.. Selepas mendapat keizinan maka Imam Al-Ghazali pun menjawab, “Bukankah Allah telah bertanya kepadamu :
وما تلك بيمينك يا موسىٰ
“Dan apakah itu yang berada di tangan kananmu itu wahai Musa? (Surah Toha:17), Dan Jawab Nabi Musa menjawab: "Ini ialah tongkat saya, aku bertekan atasnya( bersandar, berjalan dsb), dan aku memukul dengannya pada daun-daun dan supaya gugur dan menghalau kepada kambing-kambing saya dan lain-lain lagi keperluan saya " (Surah Toha :18)
Allah bertanya kepadamu apa ditanganmu, kenapa kamu menjawab sehingga tiga jawapan kamu beri, kenapa tidak menjawab tongkat saja?
Jawab Nabi Musa A.S : “Allah itu adalah kekasih ku, maka aku mengambil peluang itu untuk bercakap panjang lebar dengannya lantaran rasa kerana suka, nikmat dan lazat dapat bercakap dengan Tuhan. Maka Imam Al Ghazali pula mengatakan “Begitulah aku, kamu juga adalah kekasih aku, maka aku juga mahu mengambil kesempatan untuk bercakap panjang lebar denganmu”
Subhanallah

Kerinduan Yang Luar Biasa Kepada Rasulullah Saw
Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.
Perjumpaan Tukang Roti
dan Imam Ahmad ibn Hanbal ra.
Sulthonul Qulub al Habib Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali Al Musawa Allahu yarham, Pernah menceritakan
Imam Ahmad Bin Hanbal (rahmatullahi'alayh) pernah bepergian dan kemalaman disuatu tempat asing beliau ingin bermalam dan memutuskan untuk menginap di sebuah Masjid tapi penjaga masjid yang tidak mengenali dia dan melarang dia masuk,lalu Imam Ahmad mencoba berkali-kali menerangkan tetapi penjaga tetap tidak menerima permintaan itu dan akhirnya Imam Ahmad memutuskan untuk menghabiskan malam di halaman Masjid itu,sang penjaga masjid menjadi marah dan menyeretnya ia pergi meskipun melihat Imam Ahmad sudah tua dan lemah,
Lalu seorang tukang roti yang tokonya berada di dekat masjid melihat adegan ini dan merasa kasihan kepada Imam Ahmad dia mengundang Imam Ahmad untuk tinggal bersamanya pada malam itu,ketika berada di sana Imam Ahmad melihat bahwa tukang roti terus menyibukan lisan dengan istighfar (meminta ampunan Allah) sementara ia bekerja dipagi hari,Imam Ahmad bersemangat bertanya pada tuan rumah tentang istighfar tersebut,tukang roti mengatakan bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan baginya,kemudian Imam Ahmad kembali bertanya apakah ada faedah yang di rasakan atau dialami?
Tukang roti menjawab,"Demi Allah !! Tidak ada Dua (permohonan) yang kupanjatkan kecuali selalu terkabul,hanya satu yang belum terjawab, Apa doa mu (tanya Imam Ahmad)?
"Untuk bisa melihat atau bertemu dengan Imam yang terkenal, Ahmad ibn Hanbal !"Kata tukang roti sambil menangis Imam Ahmad berkata,"Aku Ahmad ibn Hanbal! Demi Allah!
Inilah sebabnya mengapa semalam keinginanku untuk tidur dimasjid tidak di kabulkan oleh Allah Swt
semuanya karena Allah ingin mengabulkan Doa mu itu", jadi jangan berburuk sangka dulu kepada Allah Swt karna Dia selalu punya cara tersendiri dalam menuntukan dan mengatur jalan keluar setiap
 permasalahan hamba hamba Nya.
Wallahu`alam
KERENDAHAN HATI AL HABIB ABUBAKAR AL ADENI

Sebelum Al-Habib Abubakar Al 'Adeni bin Abdullah Alaydrus ingin melanjutkan pendidikannya ke kota Aden, beliau diuji oleh abahnya yaitu Habib Abdullah Alaydrus. Habib Abdullah memerintahkan anaknya tersebut untuk masuk ke sebuah pasar di Kota Tarim. Lalu disuruh mencari di pasar tersebut satu orang saja yang kira-kira lebih rendah derajatnya dari pada dirinya (Habib Abubakar). Maka Habib Abubakar pun ke pasar dan mencari seseorang yang lebih rendah derajatnya. Beliau menjumpai pengemis lusuh, wanita tua yang tidak punya apa-apa dan macam-macam orang yang kelihatannya secara lahiriyah lebih hina dari beliau. Namun terlintas di hatinya: "Sesungguhnya tidak ada yang tau bagaimana akhir hidup dari seseorang. Kalau mereka mati dalam keadaan husnul khotimah dan aku tidak. Maka mereka semua pasti lebih mulia dari pada aku." Ketika di jalan beliau mendapati seekor anjing gila. Terlintas di benak beliau: "nah anjing ini lebih hina dari aku." Tatkala ingin dibawa anjing tersebut ke abahnya, terlintas lagi di hatinya, "anjing dan hewan-hewan lainnya akan jadi debu di akhirat. Mereka tidak dihisab. Sementara jika aku masuk neraka otomatis anjing ini lebih mulia daripadaku." Kemudian beliau kembali ke abahnya dan tidak menemukan satupun makhluk yang lebih hina dari beliau. Lalu sang abah bertanya dan Habib Abubakar menceritakan kisahnya di pasar tadi dan abahnya tersenyum lalu berkata; "engkau telah lulus ujian dariku. Sekarang engkau boleh pergi menuntut ilmu di manapun engkau mau."
Di atas merupakan kisah akhlaq yang indah dari seorang wali Allah. Padahal kemuliaannya tidak diragukan lagi, doa-doanya selalu diqabulkan oleh Allah. Bahkan di kota Aden dulu pernah terjadi hujan susu berkat doa beliau yang meminta kepada Allah. Namun dengan segala kemuliaan tersebut, beliau tidak merasa dirinya lebih mulia dari siapapun bahkan dari seekor anjing gila.
Subhanallah...
CACING YANG BERSHOLAWAT
KEPADA RASULULLAH SAW :
" Bagaimana Dengan kita, Sudahkan Kita Bertasbih & membaca Sholawat 1000 kali dalam sehari ?? apakah kita lebih mulia dari cacing atau lebih hina ?? Jika belum kita dikalahkan oleh seekor cacing merah yang menjijikkan ".
Ada kisah yang perlu kita renungkan, yaitu kisah Nabi Musa as. Suatu ketika Nabi Musa as duduk bersandar di sebuah pohon, tiba-tiba muncul dari dalam tanah seekor cacing merah. Saat itu Nabi Musa as langsung bergumam sendiri : “Buat apa Allah menciptakan seekor cacing merah yang menjijikan seperti ini.”
Ternyata Allah mengijinkan pada cacing itu dapat berbicara hingga Nabi Musa as dapat mendengar ucapannya. Cacing berkata:
“Wahai Nabi Allah aku diciptakan Allah agar aku dapat membaca Tasbih (Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaa ha illallah, Wallaahu Akbar) di siang hari 1000 kali dan membaca Shalawat (Allahumma Sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa ‘aali Muhammad saw) kepada Nabi Muhammad SAW di malam hari 1000 kali.
Mendengar jawaban itu Nabi Musa as tertunduk malu dengan cacing yang kelihatannya menjijikan. Lalu beliau bertobat kepada Allah.
Bagaimana dengan kita, sudahkan kita bertasbih dan membaca sholawat 1000 kali dalam sehari? apakah kita lebih mulia dari cacing atau lebih hina? Jika belum kita dikalahkan oleh seekor cacing merah yang menjijikkan.
Kisah ini untuk kita saling mengingatkan khususnya untuk aku dan kalian semua para Pecinta Sayyidina Muhammad SAW.
Wallahu A'lam Bishawab
Sumber : Kitab Mukaasyafatul Qulub, karya Imam Al-Ghazali ra.

Aku cinta kepada orang sholeh meskipun ak bukan termasuk dari mereka, tetapi aku berharap agar mendapatkan syafaat dari mereka yaa Allah... Amiin



Dikisahkan ketika zaman Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dahulu hiduplah seorang pemuda miskin dan yatim yang tinggal bersama ibunya dinegeri Yaman, pemuda itu bernama Uwais Al-Qorni. Sehari-harinya dia hidup sebagai penggembala kambing.Kehidupannya yang miskin membuat ia tak dikenal oleh penduduk Yaman,ia sering menerima celaan dan cercaan dari orang-orang sekitar bahkan ia juga dituduh sebagai pencuri. Pernah suatu ketika seorang fuqoha’ dari negeri Kufah datang dan duduk bersamanya kemudian menghadiahkan 2 helai pakaian untuknya. Namun, Uwais menolaknya dengan halus seraya berkata “Aku khawatir, nanti orang-orang akan menuduhku mencuri lagi, karena bagaimana bisa aku memperoleh pakaian ini.”
Meskipun miskin, Uwais tak pernah mengeluh atas kekurangannya bahkan jika ada upah hasil menggembala yang berlebih ia berikan kepada tetangganya yang miskin. Subhanallah. Meski hidup serba kekurangan, ia masih bisa memberi kepada saudaranya yang tidak mampu. Uwais Al-Qorni mulai memeluk Islam sejak seruan Islam pertama kali tiba di Yaman karena rindunya ia akan datangnya kebenaran. Tetangga-tetangga Uwais yang juga memeluk Islam banyak yang mengunjungi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah untuk menerima ajaran beliau secara langsung, kemudian kembali ke Yaman dan merubah cara hidup mereka sesuai dengan ajaran Islam.
Melihat tetangganya yang telah pulang ke Yaman setelah bertemu kekasih Allah, membuat Uwais sedih. Kecintaanya yang sangat dalam kepada baginda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menumbuhkan rasa rindu yang begitu berat untuk bertemu dengan beliau. Namun, Uwais hanya bisa memendam keinginannya itu karena ia harus merawat ibunya yang telah uzur serta lumpuh. Seringkali ia merenung dan bertanya di dalam hatinya, “Kapankah ia akan bisa melihat wajah baginda rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dari dekat?”
Akhirnya pada suatu hari, atas izin Allah, Uwais berkesempatan untuk menemui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung. Ibunya mengizinkannya untuk berangkat ke Madinah dan memintanya untuk segera kembali ke Yaman setelah berjumpa dengan baginda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum berangkat ke Madinah, tak lupa ia menyiapkan semua keperluan yang dibutuhkan ibunya dan meminta tetangganya untuk menemani ibunya selama ia berpergian. Meski banyaknya rintangan yang ia hadapi, selama menempuh perjalanan panjang sejauh 400 km dari Yaman menuju Madinah semangatnya untuk bertemu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tak pernah surut.
Namun, setibanya Uwais di Madinah, ketika ia mendatangi rumah baginda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau sedang di tengah medan peperangan. Karena kerinduannya yang sangat mendalam itu, ia rela menunggu kepulangan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam di depan rumah beliau. Disaat ia menunggu, teringat olehnya ucapan ibunya yang memintanya untuk segera pulang setelah bertemu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, Uwais pun menjadi ragu. Tetapi akhirnya karena ketaatannya kepada ibunya Uwais kembali ke Yaman dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari medan perang, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kedatangan orang yang mencarinya kepada Aisyah radiallahu’anha, beliau menjelaskan bahwa Uwais Al-Qorni adalah anak yang taat pada ibunya dan dia adalah penghuni langit. Sebagai mana Sabda beliau “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah tapak tangannya.” Kemudian baginda memandang kearah Ali dan Umar dan bersabda, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langi dan bukan penghuni bumi.” Aisyah radiallahu’anha dan para sahabat tertegun mendengar penjelasan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Hingga ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Khalifah Umar bin Khattab teringat akan sabda beliau dan mengajak Ali untuk bersama-sama mencari orang yang bernama Uwais Al-Qorni. Setiap pedagang yang datang dari Yaman mereka hampiri untuk menanyakan keberadaan Uwais. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Seorang Uwais yang miskin tak seorang pun mengenali dirinya di bumi ini.
Suatu ketika setelah berbulan-bulan lamanya pencarian, Khalifah Umar Al Khattab dan Ali membuahkan hasil, serombongan pedagang dari Yaman memberitakan bahwa Uwais sedang menggembala unta diperbatasan kota.
Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bergegas pergi ke perbatasan kota untuk menemui Uwais, setibanya diperbatasan kota mereka segera menghampiri penggembala tersebut dan mengucapkan salam. Namun ternyata Uwais sedang melakasanakan shalat,setelah ia menyelesaikan shalatnya dan menjawab salam mereka sambil bersalaman dengan keduanya. Sewaktu bersalaman segera Khalifah Umar Al Khattab melihat telapak tangan Uwais untuk membuktikan apa yang pernah rasul katakan kepada beliau. Ternyata benar tangan penggembala itu mengeluarkan cahaya putih dialah Uwais sang penghuni langit.
Melalui cerita dari Uwais tahulah mereka bahwa ternyata ibu Uwais telah meninggal dunia. Kemudian Khalifah Umar bin Khattab dan Ali meminta Uwais untuk mendoakan mereka, tetapi Uwais enggan dan berkata, “Sayalah sepatutnya meminta doa daripada kalian”. Mendengar jawaban Uwais khalifah Umar bin Khattab berkata, “Tujuan kami datang kesini adalah untuk meminta doa dan istighfar darimu.” Karena desakan kedua sahabat Nabi ini, akhirnya Uwais berkenan untuk mendoakan mereka dan sebagai ucapan terima kasih, Khalifah Umar berjanji akan menyumbangkan uang Negara dari baitulmal untuk menjamin kelangsungan hidupnya. Ternyata Uwais menolaknya dengan halus dan berkata “Hamba mohon cukup hari ini saja hamba dikenali orang, hari-hari selanjutnya biarkanlah hamba yang fakir ini tidak dikenali orang lagi.”
Sehingga semenjak saat itu Uwais Al Qorni tidak dikenali orang-orang lagi. Namun, terdapat banyak riwayat yang menceritakan tentangnya. Hingga saat ajal datang menjemputnya terjadi peristiwa yang mengejutkan penduduk sekitarnya begitu ramai orang tak dikenal yang mengurusi jenazahnya.
Maka benarlah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang Uwais Al Qorni yang merupakan seorang penghuni langit. Meski ia tak dikenali oleh penduduk bumi, tetapi ia begitu terkenal di kalangan penghuni langit.
Mahasuci Allah. Itulah balasan bagi orang yang benar-benar bertaqwa dan sempurna imannya. Meskipun ia tidak mengenali siapa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, dan meskipun ajaran Islam tak langsung diterimanya dari beliau, ia begitu mantap meyakini Islam.




Ada seorang budak yang dibebaskan Rasulullah S.A.W. Namanya adalah Thouban. Thouban begitu senang ketika Rasulullah S.A.W. membebaskannya. Dia sangat mencintai Rasulullah. Dia merasa begitu senang setiap kali melihat Rasulullah S.A.W dan selalu berusaha untuk melihat Rasulullah S.A.W. beberapa kali dalam sehari. Ketika melihat wajah Rasulullah S.A.W., maka keimanannya bertambah, dan seketika dia melupakan segala kesulitan dalam hidupnya.
Pada suatu hari dia belum melihat Rasulullah S.A.W. Jadi ketika dia menemuinya, Rasulullah S.A.W. melihat wajah Thouban R.A. begitu murung. Rasulullah S.A.W. bertanya kepadanya: “Ya Thouban, ada apa? Kenapa hari ini kau terlihat begitu murung?”
Dia berkata: “Ya Rasulullah S.A.W., apakah kau tahu bahwa aku begitu mencintaimu? Aku perlu melihatmu setiap hari. Ketika aku melihatmu, aku merasa begitu senang. Aku harus melihatmu, kau tidak tahu perasaan hatiku.
Ya Rasulullah, aku begitu bahagia karena dapat melihatmu sekarang, tapi ketika aku tidak melihatmu, aku memikirkan kematian dan akhirat. Dan aku berpikir ketika kau diambil oleh Allah S.W.T. dan masuk ke dalam surga, maka kau akan berada di surga yang paling tinggi, bersama para anbiyya, orang-orang yang syahid, dan orang-orang saleh, sedangkan aku tidak dapat melihatmu lagi, karena jika aku masuk surga, maka aku akan berada di surga tingkat rendah, bahkan kemungkinan aku tidak akan masuk surga. Dan jika itu yang terjadi, aku tidak akan bisa melihatmu lagi!”
Wallahi, tepat pada saat dia selesai berkata demikian, Jibril A.S. turun dan mewahyukan ayat:

Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (Q.S. An-Nisaa:69)
Ketika Thouban mendengar ini, Subhanallah, dia mulai tersenyum lagi! Dan dia seringkali memberitahu orang-orang: “Apakah kau tahu bahwa ayat ini diwahyukan karena diriku? Apakah kau tahu bahwa cintaku kepada Rasulullah S.A.W. begitu meluap-luap, ketika aku berpikir tak akan pernah melihatnya lagi, tiba-tiba Jibril A.S. turun dengan sebuah ayat untuk memberitahuku bahwa aku tidak perlu khawatir, jika ingin bersama dengan Rasulullah S.A.W. di akhirat, yang harus kita lakukan hanyalah menuruti sabdanya dan menjauhi segala yang dilarangnya.”
Ini adalah pelajaran bagi kita semua bahwa jika ingin menjadi sahabat Rasulullah S.A.W. di surga, kita harus menjadi Muslim yang lebih baik dengan menuruti sabdanya dan menjauhi larangannya. Semoga Allah menjadikan kita sebagai sahabat Rasulullah S.A.W. di surga nanti. Aamiin!





Cinta kepada Rasulullah S.A.W. merupakan aspek yang sangat penting. 
sahabat-sahabat Rasulullah S.A.W. Ada yang unik dalam diri para sahabat Rasulullah S.A.W. Keunikan itu adalah mereka telah mempersembahkan hati mereka untuknya. Umar bin Khatab R.A. berkata “Wahai Rasulullah S.A.W., aku mencintaimu lebih dari apapun selain diriku, apakah kecintaanku sudah benar?” Rasulullah S.A.W. bersabda “Belum benar. Kau harus belajar bagaimana caranya mencintaiku melebihi dirimu sendiri.” Kemudian dia berkata “Wahai Rasulullah S.A.W., sekarang aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri.”
Dan seorang sahabat yang bernama Thouban datang seraya berkata “Wahai Rasulullah, apakah kami harus pergi ke surga?” Rasulullah S.A.W. bersabda "Memangnya ada apa Thouban? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Thouban berkata “Karena di hari kiamat nanti, Allah akan memberikanmu buku catatan amal yang penuh dengan begitu banyak amal baik, kau akan berada di tempat yang tinggi bersama para nabi dan anbiyya, sedangkan orang-orang seperti kami akan berada di surga tingkat rendah. Wahai Rasulullah, apa tujuannya berada di surga jika kami tidak bisa bersamamu? Tidak bisakah kita tinggal di Madinah saja dan menikmati kehidupan dimana kita bangun bersama, duduk bersama, dan shalat bersama?” 
Rasulullah S.A.W. bersabda kepadanya “Kau akan bersama dengan seseorang yang kau cintai. Belajarlah caranya mencintaiku, maka kau akan bersamaku.” Cinta tanpa syarat.
Dan ada orang-orang yang bukan umat terdahulu, yang sangat mencintai Rasulullah S.A.W. Kita pikir kita sudah mencintai Rasulullah S.A.W. dengan benar karena telah mengenakan sorban di kepala, memanjangkan jenggot, dan mengenakan pakaian putih yang bagus, tapi seiring dengan itu, kita juga harus mencintai Rasulullah S.A.W. sepanjang waktu dengan cara menjalankan sunnahnya sepanjang waktu, dan tidak pernah berhenti sama sekali.

Kita punya guru-guru agama. Dan ketika aku melihat mereka, aku sadar bahwa mereka sangat mencintai Rasulullah S.A.W. Ada salah satu guruku, kapanpun dia mengajarkan tentang hadist kepada kami, dia selalu duduk dalam posisi Tasyahud. Dan seringkali ketika dia selesai mengajar dalam kelas hadistnya, dia hampir jatuh ketika berdiri karena jari jempolnya menjadi kaku. 

Dan ini bukan hanya sekali, dia selalu melakukan ini 6 kali dalam seminggu. Dia berdiri dan hampir jatuh karena jempolnya menjadi kaku. Dia berpegangan pada tembok, mengangkat kakinya, membiarkan darahnya kembali mengalir, mengangkat kaki satunya, membiarkan darahnya kembali mengalir, kemudian baru jalan.

Aku pernah bertanya kepadanya “Syekh, kenapa kau melakukan ini sementara kau sudah tua, kenapa kau tidak duduk bersila saja, itu sudah jaiz (baik).” Dia berkata “Kau memintaku untuk melakukan sesuatu yang berlawanan dengan sunnah dari orang yang menyusun buku ini”, karena buku yang diajarkannya adalah Muatta Imam Malik. 

Dan Imam Malik R.A. tidak pernah duduk dalam posisi selain tasyahud, sampai-sampai mereka berkata: Pada suatu waktu, Imam Malik sedang mengajarkan hadist dan ekspresi wajahnya berubah. Murid-muridnya bertanya “Ada apa?” Dia berkata “Periksa punggungku.” Dan ketika diperiksa, ternyata seekor kalajengking menyengatnya, dan dia tidak berpindah posisi karena rasa hormatnya terhadap ajaran Rasulullah S.A.W.

Salah satu hadits yang terkenal mengungkapkan betapa penting kecintaan kaum muslimin pada Rasulullah SAW. Sabda beliau, “Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari).

Memang, mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.

Betapa cinta sahabat kepada Rasulullah SAW, tergambar ketika Rasulullah SAW bersama Abu Bakar ash-Shiddiq beristirahat di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. Kala itu Rasulullah SAW tertidur berbantalkan paha Abu Bakar. Tiba-tiba Abu Bakar merasa kesakitan karena kakinya digigit kalajengking. Tapi, dia berusaha sekiat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak—khawatir Rasulullah SAW terbangun.

Salah seorang sahabat, Zaid bin Datsima, tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah SAW. Ketika itu, ia sempat disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. ”Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.

“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.

Kisah kecintaan sahabat kepada Rasulullah SAW banyak diungkapkan dalam sejarah. Salah satunya ditunjukan oleh Umar bin Khatthab. ”Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku,” kata Umar. Mendengar itu, Rasulullah SAW menjawab, ”Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

”Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah SAW pun menukas, ”Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu” (HR Bukhari).

Hari Kiamat

Penghormatan dan pemuliaan terhadap Rasulullah SAW memang merupakan perintah Allah SWT. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang (QS Al Fath : 8-9).

Sebuah ayat menekankan pentingnya kecintaan terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW, ”Katakanlah (wahai Muhammad), jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu, perdagangan yang kamu kekhawatirkan kerugiannya, dan rumah yang kamu senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi hidayah kepada orang-orang fasik” (QS At-Taubah: 24).

Kecintaan kaum muslimin kepada Rasulullah SAW juga merupakan faktor penting bagi keselamatannya di hari kiamat kelak. Hal itu terungkap ketika suatu hari seorang sahabat bertanya kepada rasulullah SAW, ”Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka jawab Rasulullah SAW, ”Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Jawab sahabat itu, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, sabda Rasulullah SAW, ”Insya Allah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”

Menurut Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, Shafwan, dan Abu Dzar, Rasulullah SAW telah bersabda mengenai seseorang yang dengan tulus mencintainya, ”Seseorang akan berada di Yaumil Mahsyar bersama orang yang dicintainya.” Mendengar itu, para sahabat sangat berbahagia karena mereka sangat mencintai beliau.

Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah SAW, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”

Mendengar itu Rasulullah terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu, ”Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui” (QS An-Nisa : 69-70).

Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan berdakwah ke seluruh penjuru dunia.

Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan—beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”

”Nabi baik-baik saja sebagaimana engkau mengharapkannya,” jawab para sahabat. Lalu kata perempuan itu lagi, “Tunjukanlah dia kepadaku hingga aku dapat memandangnya.” Kemudian para sahabat menunjukan posisi Rasulullah SAW. “Sungguh, kini semua deritaku tak ada artinya. Sebab, engkau selamat,” kata perempuan itu kepada Rasulullah SAW.

”Mereka yang mencintaiku dengan sangat mendalam adalah orang-orang yang menjemputku. Sebagian dari mereka bersedia mengorbankan keluarga dan kekayaannya untuk berjumpa denganku,” sabda Rasulullah SAW sebagaimana diceritakan oleh Abu Hurairah (HR Muslim, Bukhari, Abu Dzar).

Betapa kecintaan sahabat Bilal kepada Rasulullah SAW, terungkap menjelang ia meninggal. Bilal melarang isterinya bersedih hati, sebab, katanya, “Justru ini adalah kesempatan yang menyenangkan, karena besok aku akan berjumpa dengan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.” Wafatnya Rasulullah SAW merupakan kesedihan luar biasa bagi para sahabat dan pencintanya. Dikisahkan, ada seorang perempuan yang menangis di makam Rasulullah SAW sampai ia meninggal.

Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya.

Itulah cinta sejati, sebagaimana perintah Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (Aji Setiawan/Red: Mahbib)

Cinta Kepada Rasul 1

Rasulullah itu adalah orang yang sangat dicintai oleh para sahabatnya, umumnya para sahabat mencintai Rasulullah Saw, walau ada sebagian sahabat yang diam-diam membenci Rasulullah. Tetapi mayoritas sahabat itu sangat mencintai Rasulullah Saw.
Pernah suatu malam Rasulullah mendengar suara beberapa orang di luar kamarnya, Rasulullah menegur: “Kenapa kalian berkumpul di sini?” lalu mereka menjawab: “Ya Rasulullah, kami tidak sanggup tidur khawatir ketika kami tidur nanti, orang-orang kafir datang dan membunuhmu.” Mereka sukarela menjadi satpam Rasulullah Saw, datang sendiri, tidak dibayar. Tetapi Rasulullah Saw mengatakan, “Tidak, Allah melindungi aku, pulanglah kamu ke tempat kamu masing-masing.”
Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu saat setelah dia ketemu Rasululllah dia pergi, lalu tak lama kemudian balik lagi dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut tidak sanggup melihat engkau setelah ini.” Dan Rasulullah mengizinkannya.
Kemudian, setelah kejadian itu Rasulullah tidak pernah melihat lagi tukang minyak wangi itu. Disuruhnya sahabatnya pergi melihat, ternyata ia sudah meninggal dunia tidak lama setelah dia pergi dari pasan dan memandang wajah Rasulullah Saw itu. Lalu kata Rasulullah Saw: “Kecintaannya kepadaku akan menyelamatkan dia di hari akhirat.”
Ada lagi seorang sahabat Rasulullah bernama Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak sanggup tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.
Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah kaget lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”
Ada lagi seorang sahabat, yang setelah Rasulullah meninggal dunia, membanggakan mulutnya yang tidak ada gigi lagi. Saat perang Uhud itu juga, Rasulullah cedera karena rantai pelindung kepalanya menusuk pipinya. Lalu seorang sahabat menarik rantai itu dengan giginya, tapi sebelum rantai itu keluar, seluruh giginya rontok. Dia bangga bahwa giginya itu berjatuhan karena membela Rasulullah yang dicintainya. Sehingga menjadi satu kebahagiaan tersendiri. Ini, sekali lagi masalah cinta, dan cinta itu selalu tidak wajar.
Ada satu contoh lagi kecintaan orang kepada Rasulullah Saw. Menjelang suatu peperangan, Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah lewat dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah kaget dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.”
Dan sahabat itu kemudian gugur di medan perang setelah mencium perut Rasulullah Saw. Rupanya ini hanya strategi dia agar sanggup mencium perut Rasulullah Saw.
Kelak, setelah Rasulullah meninggal dunia, kecintaan para sahabat itu diungkapkan dengan kerinduan yang luar biasa kepada Rasulullah Saw.
Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.
Mengapa Rasulullah dirindukan atau dicintai? Itu bukan hanya karena Allah SWT membuka hati mereka untuk rindu, tetapi karena akhlak Rasulullah yang menarik kecintaan mereka. Dan akhlak itu adalah Sunnah. Sekiranya kita mencontoh akhlak beliau ini, pasti kitapun akan dicintai oleh banyak manusia. Tentu tidak oleh semua manusia, karena Rasulullah juga tidak dicintai oleh sem ua manusia, tidak dicintai oleh semua sahabat dan tidak dicintai oleh semua makhluk. Tapi sekiranya kita mempraktekkan akhlak Rasulullah itu dalam pergaulannya dengan orang banyak, pasti kitapun akan menjadi manusia, yang dicintai oleh kebanyakan umat manusia.
Pada zaman Nabi Muhammad S.A.W, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan.
Kulitnya kemerah-merahan. Dagunya mene
mpel di dada kerana selalu melihat pada tempat sujudnya. Tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya.Ahli membaca al-Quran dan selalu menangis, pakaiannya hanya dua helai dan sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya digunakannya sebagai selendang. Tiada orang yang menghiraukan, tidak terkenal dalam kalangan manusia,namun sangat terkenal di antara penduduk langit.
Tatkala datangnya hari Kiamat, dan tatkala semua ahli ibadah diseru untuk memasuki Syurga, dia justeru dipanggil agar berhenti dahulu seketika dan disuruh memberi syafa’atnya.
Ternyata Allah memberi izin padanya untuk memberi syafa’at bagi sejumlah bilangan qabilah Robi’ah dan qabilah Mudhor, semua dimasukkan ke Syurga dan tiada seorang pun ketinggalan dengan izin-Nya.
Dia adalah ‘Uwais al-Qarni’ siapalah dia pada mata manusia…
Tidak banyak yang mengenalnya, apatah lagi mengambil tahu akan hidupnya. Banyak suara-suara yang mentertawakan dirinya, mengolok-olok dan mempermainkan hatinya.
Tidak kurang juga yang menuduhnya sebagai seorang yang membujuk, seorang pencuri serta berbagai macam umpatan demi umpatan, celaan demi celaan daripada manusia.
Suatu ketika, seorang fuqoha’ negeri Kuffah, datang dan ingin duduk bersamanya. Orang itu memberinya dua helai pakaian sebagai hadiah. Namun, hadiah pakaian tadi tidak diterima lalu dikembalikan semula kepadanya. Uwais berkata:
“Aku khuatir, nanti orang akan menuduh aku, dari mana aku mendapatkan pakaian itu? Kalau tidak daripada membujuk pasti daripada mencuri.”
Uwais telah lama menjadi yatim. Beliau tidak mempunyai sanak saudara, kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh tubuh badannya. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa.
Bagi menampung kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup-cukup untuk menampung keperluan hariannya bersama ibunya. Apabila ada wang berlebihan, Uwais menggunakannya bagi membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan.
Kesibukannya sebagai pengembala dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya. Dia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam ketika seruan Nabi Muhammad S.A.W tiba ke negeri Yaman. Seruan Rasulullah telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya menarik hati Uwais. Apabila seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, kerana selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.
Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad S.A.W secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbaharui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais apabila melihat setiap tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah bertamu dan bertemu dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang dia sendiri belum berkesempatan.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih. Namun apakan daya, dia tidak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah. Lebih dia beratkan adalah ibunya yang sedang sakit dan perlu dirawat. Siapa yang akan merawat ibunya sepanjang ketiadaannya nanti?
Diceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah S.A.W mendapat cedera dan giginya patah kerana dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Khabar ini sampai ke pengetahuan Uwais.
Dia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada Rasulullah, sekalipun ia belum pernah melihatnya.
Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tidak terbendung dan hasrat untuk bertemu tidak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, “Bilakah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dengan dekat?”
Bukankah dia mempunyai ibu yang sangat memerlukan perhatian daripadanya dan tidak sanggup meninggalkan ibunya sendiri. Hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa Rasulullah.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya. Dia meluahkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan untuk pergi menziarahi Nabi S.A.W di Madinah.
Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau amat faham hati nurani anaknya, Uwais dan berkata,
“Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Apabila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang.”
Dengan rasa gembira dia berkemas untuk berangkat. Dia tidak lupa untuk menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama mana dia pergi.
Sesudah siap segala persediaan, Uwais mencium sang ibu. Maka berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak lebih kurang empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu panas dilaluinya. Dia tidak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari. Semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi S.A.W yang selama ini dirinduinya.
Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi S.A.W, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah R.A sambil menjawab salam Uwais.
Segera sahaja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata baginda tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tidak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi S.A.W dari medan perang.
Bilakah beliau pulang? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman.
“Engkau harus lekas pulang.”
Atas ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi S.A.W.
Dia akhirnya dengan terpaksa memohon untuk pulang semula kepada sayyidatina ‘Aisyah R.A ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi S.A.W dan melangkah pulang dengan hati yang pilu.
Sepulangnya dari medan perang, Nabi S.A.W langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad S.A.W menjelaskan bahawa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit dan sangat terkenal di langit.
Mendengar perkataan baginda Rasulullah S.A.W, sayyidatina ‘Aisyah R.A dan para sahabatnya terpegun.
Menurut sayyidatina ‘Aisyah R.A memang benar ada yang mencari Nabi S.A.W dan segera pulang kembali ke Yaman, kerana ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rasulullah S.A.W bersabda: “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”
Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada sayyidina Ali K.W dan sayyidina Umar R.A dan bersabda:
“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”
Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Nabi S.A.W wafat, hinggalah sampai waktu khalifah Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq R.A telah digantikan dengan Khalifah Umar R.A.
Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali K.W untuk mencarinya bersama.
Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara kafilah-kafilah itu ada yang merasa hairan, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh beliau berdua.
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahawa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.
Sesampainya di khemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar R.A dan sayyidina Ali K.W memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan solat. Setelah mengakhiri solatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi S.A.W.
Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
“Siapakah nama saudara?”
“Abdullah.” Jawab Uwais.
Mendengar jawapan itu, kedua sahabat pun tertawa dan mengatakan,
“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?”
Uwais kemudian berkata “Nama saya Uwais al-Qarni.”
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, dia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan sayyidina Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah,
“Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata,
“Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripada anda.”
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar R.A berjanji untuk menyumbangkan wang negara daripada Baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera sahaja Uwais menolak dengan halus dengan berkata,
“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.
Namun, ada seorang lelaki pernah bertemu dan dibantu oleh Uwais. Ketika itu kami berada di atas kapal menuju ke tanah Arab bersama para pedagang. Tanpa disangka-sangka angin taufan berhembus dengan kencang.
Akibatnya, hempasan ombak menghentam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya.
Lelaki itu keluar daripada kapal dan melakukan solat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.
“Wahai waliyullah, tolonglah kami!” Namun, lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,
“Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”
Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata,
“Apa yang terjadi?”
“Tidakkah engkau melihat bahawa kapal dihembus angin dan dihentam ombak?” Tanya kami.
“Dekatkanlah diri kalian pada Allah!” Katanya.
“Kami telah melakukannya.”
“Keluarlah kalian daripada kapal dengan membaca Bismillahirrahmaanirrahiim!”
Kami pun keluar daripada kapal satu persatu dan berkumpul. Pada saat itu jumlah kami lima ratus lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami serta isinya tenggelam ke dasar laut.
Lalu orang itu berkata pada kami,
“Tidak apalah harta kalian menjadi korban, asalkan kalian semua selamat.”
“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan?” Tanya kami.
“Uwais al-Qorni.” Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya,
“Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.”
“Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membahagi-bahagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” Tanyanya.
“Ya!” Jawab kami.
Orang itu pun melaksanakan solat dua rakaat di atas air, lalu berdoa. Setelah Uwais al-Qarni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membahagi-bahagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tiada satu pun yang tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.
Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“Ketika aku ikut menguruskan jenazahnya hingga aku pulang daripada menghantarkan jenazahnya, lalu aku ingin untuk kembali ke kubur tersebut untuk memberi tanda pada kuburnya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas di kuburnya.”
(Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qarni pada masa pemerintahan sayyidina Umar R.A.)
Pemergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat menghairankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.
Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?”
“Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”
Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.
“Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar